
SUMBAWA, NTB – Sosok muda yang dikenal luas karena pemikiran kritis dan konsistensinya di ruang publik, Sherly Anavita, hadir menyapa masyarakat Sumbawa dalam gelaran Ruang Aspirasi Podcast. Dalam kunjungan pertamanya ke tanah Sumbawa ini, Sherly membagikan refleksi mendalam mengenai perjalanan hidupnya, tantangan menjadi anak muda di era digital, hingga arti pendidikan yang sesungguhnya.
Kehadiran Sherly di Sumbawa merupakan undangan dari Sekolah Pilar Muda. Dalam diskusinya, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif tersebut yang dinilainya sebagai wadah krusial bagi anak muda daerah untuk bertumbuh, belajar, dan membangun jejaring.
Meluruskan Dikenal oleh publik sebagai sosok yang cerdas, tajam, dan kritis, Sherly justru mengungkapkan sisi lain dirinya yang tidak banyak diketahui. Ketika diminta menggambarkan dirinya dalam tiga kata, ia memilih: Humanis, Pembelajar, dan Adventurous.
“Kritisisme itu sebenarnya hanyalah cara saya memproses informasi. Namun, di balik itu, saya adalah orang yang senang mengeksplorasi alam dan memiliki sisi humanis,” ungkap Sherly.
Ia pun berpesan bahwa generasi muda saat ini harus berani kritis, namun dengan catatan: harus diiringi dengan tanggung jawab atas apa yang dikritisi.
Turning Point dan Empat Pertanyaan Hidup
Dalam perbincangan tersebut, Sherly mengenang masa sekolahnya. Ia menceritakan fase pencarian jati dirinya, mulai dari cita-cita masa kecil menjadi pilot, hingga akhirnya berambisi menjadi duta besar saat SMA. Namun, sebuah momen berharga terjadi saat ia kuliah. Seorang mentor menegurnya karena Sherly saat itu terjebak dalam kesibukan yang tidak produktif karena FOMO (Fear of Missing Out).
Sherly kemudian membagikan “empat pertanyaan sakral” dari mentornya yang mengubah arah hidupnya:
1. Siapa kamu 10 tahun ke depan? (Tentang tujuan hidup).
2. Siapa kamu tanpa sosial media? (Tentang self-awareness).
3. Bagaimana mengeksekusi rencana tersebut?(Tentang strategi dan langkah nyata).
4. Apa warisan (legacy) yang ingin ditinggalkan untuk generasi sesudahmu?
“Pertanyaan-pertanyaan ini yang membuat saya berhenti menjadi people pleaser dan mulai berani mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan jangka panjang saya,” jelasnya.
Tantangan Pendidikan dan Peran Sosial Media
Menanggapi kondisi pendidikan di Indonesia, Sherly menyoroti pentingnya pembentukan karakter di atas sekadar formalitas akademik. Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya mengajarkan cara berpikir (critical thinking) dan empati, bukan hanya menciptakan “robot” industri yang siap kerja.Terkait maraknya penggunaan media sosial, Sherly mengingatkan bahwa platform tersebut hanyalah alat (tools) yang bebas nilai.
“Penting bagi anak muda untuk menginstal empati dan kedewasaan di media sosial. Jangan sampai kita menjadi pintar secara intelektual, tapi tumpul secara emosional dan tidak memiliki akar jati diri,” tegasnya.
Menjaga Harapan
Menutup perbincangan, Sherly mengajak generasi muda Sumbawa dan Indonesia secara luas untuk tetap optimis. Baginya, perubahan memang butuh diupayakan, baik dari dalam maupun luar sistem.
“Fokuslah pada pergerakan. Jika kita berhenti bertumbuh, kita selesai. Jaga harapan itu tetap hidup karena masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana kita belajar, bersikap kritis, dan bertindak hari ini,” tutup Sherly dengan optimis.
Sumber: Podcast “Ruang Aspirasi Podcast” bersama Marsa Gipta Juliana.
Terimakasih Ruang Inspirasi sudah hadirkan Sherly Annavita di Sumbawa