Imajie TV

“Rapor Merah, Tapi Solidaritas Tetap Hijau”

Di sekolah-sekolah Mataram, Lombok, pada rentang waktu yang kira-kira ditandai dengan suara HP MITO yang menggelegar dan bau spidol yang lengket di hidung, sekitar 2010-2013, rapor ditulis tangan. Tidak ada grafik warna-warni, tidak ada kata “cukup berkembang”, apalagi kalimat penghibur yang bikin orang tua tenang tapi muridnya santai. Yang ada hanya tinta hitam yang jujur dan bolpoin merah yang tegas.

Nilai apa adanya. Kalau memang belum mampu, ya belum. Kalau belum naik kelas, itu bukan karena guru kejam, tapi karena proses belajarnya memang belum rampung. Sederhana.

Di masa itu, saya dan teman-teman lebih takut pada satu hal: tidak naik kelas sendirian. Karena tidak apa-apa tinggal kelas, asal teman sebangku ikut tinggal. Ada semacam solidaritas sunyi yang tak tertulis di buku pelajaran. Kalau sama-sama tertinggal, rasanya seperti piknik kecil yang gagal, tapi gagal bareng-bareng.

Menariknya, sekolah saat itu bukan cuma soal siapa paling cepat menyelesaikan soal fisika dan dapat nilai 100. Justru yang paling ditunggu adalah sesi bercerita dengan teman kelas. Tentang memancing di kali, menangkap ikan, koleksi ikan cupang, ayam aduan, atau sekadar luka jatuh dari pohon jambu. Cerita-cerita itu tidak membuat kami kurang hormat pada guru. Kami tetap patuh. Nakal, iya. Tapi nakal yang berusaha tidak meninggalkan dampak pada orang lain, apalagi pada guru.

Nilai rapor pun tidak semata-mata mengukur kecerdasan. Ia juga mencatat adab, disiplin, sikap, dan etika. Percuma pintar kalau tidak tahu cara duduk diam saat orang lain berbicara. Percuma nilai bagus kalau lisannya lebih tajam dari pensil 2B.

Saya masih ingat satu teman. Namanya Heru. Kami memanggilnya “Domba”, karena rambutnya mengembang seperti bulu domba basah kena angin. Domba ini rajin. Bangkunya hampir tak pernah kosong. Tugas-tugas guru dilibas, walau sebagian diselesaikan dengan cara yang katakanlah kreatif, alias mencontek.

Secara akademik, Domba tidak buruk. Tapi soal adab, ia juara bertahan. Setiap guru menjelaskan, selalu ada celetukan. Selalu ada kalimat yang dipelintir jadi lelucon. Kelas jadi ramai, tawa pecah, tapi pelajaran buyar. Yang paling fatal: Domba gemar memotong pembicaraan guru, menjadikan otoritas sebagai bahan candaan.

Akhirnya, Domba tidak naik kelas.

Yang menarik, wajahnya tidak menunjukkan penyesalan. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena satu hal sederhana: Wahyu, teman sebangkunya, juga tidak naik kelas. Bedanya, Wahyu tidak naik karena jarang masuk sekolah. Dan entah kenapa, kegagalan terasa lebih ringan ketika ada yang menemani.

Hari ini, media sosial ramai membicarakan sistem wajib naik kelas. Katanya demi kesehatan mental, demi menghindari stigma, demi masa depan anak. Tapi pelan-pelan, tanpa kita sadari, muncul satu mindset baru: yang penting naik kelas, yang penting lulus. Nanti soal kemampuan, bisa dicari setelahnya. Cari pengalaman, katanya.

Kalimat ini terdengar menenangkan bagi yang malas. Tapi cukup meresahkan bagi yang masih percaya bahwa pendidikan bukan sekadar formalitas.

Nilai rapor bukan cuma angka. Ia adalah jejak pembentukan karakter. Ia merekam bagaimana seseorang bersikap, menghormati, bertanggung jawab. Ia bukan alat menjatuhkan, tapi cermin untuk bercermin, kadang retak, tapi perlu.

Saya bukan murid yang selalu unggul di semua mata pelajaran. Tapi di beberapa mata pelajaran seperti: IPA, IPS, sejarah, seni budaya, PPKn, olahraga, nilai saya cukup membanggakan. Bukan karena saya paling pintar, tapi karena saya cukup tahu kapan harus mendengar, kapan harus bicara, dan kapan harus diam.

Rapor, pada akhirnya, bukan sekadar laporan akademik. Ia adalah catatan perjalanan kecil tentang bagaimana seorang anak belajar menjadi manusia. Manusia yang kelak hidup di tengah keluarga, masyarakat, agama, dan negara.

Dan mungkin, sesekali, tidak naik kelas adalah bagian dari pelajaran itu sendiri.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *