Imajie TV

Musim Hujan, Anak Muda Mataram, dan Drama yang Selalu Basah

Musim hujan di Mataram selalu datang dengan gaya yang membingungkan: kadang gerimis lembut, kadang deras kayak langit marah, kadang cuma mendung PHP. Dan seperti sudah ditakdirkan, hujan memicu drama kecil dalam hidup anak muda Mataram yang selalu antara males gerak dan males mikir.

Di kota ini, hujan bukan cuma bikin warga yang rumahnya dekat sungai cemas karena trauma banjir seperti musim hujan sebelumnya. Ada kelompok lain yang jauh lebih sensitif menghadapi hujan: remaja jomblo, perantau baru pindah, dan mereka yang lagi patah hati gara-gara diputusin tiba-tiba.

Begitu hujan turun, kekosongan hati langsung ikut bergetar. Mirip alarm yang kita snooze berkali-kali: nolak bangun, tapi tetap maksa bunyi. Bedanya, hujan bukan bikin bangun, tapi bikin mellow.

Jomblo Mataram dan Hujan sebagai Soft Reminder Bahwa Pelukan Bukan Hak Asasi

Anak muda jomblo biasanya paling males gerak di musim hujan. Bukan karena dingin tapi karena suasana sendu yang seolah bisik-bisik, “Bro, kamu sendirian loh…”

Udah gitu, timeline penuh orang pacaran update story sambil ngasih caption sok-sok puitis:
“Hujan itu rindu yang turun ke bumi.”
Padahal jelas-jelas itu foto sepatu doi yang barusan nyemplung di tempat becek.

Anak Kos Pejuang Realitas Dompet

Perantau kos di Kekalik, Gomong dan sekitarnya punya dilema eksistensial setiap kali hujan:
kelaparan, tapi keluar takut basah; pesan makanan, tapi dompet bilang “jangan.”

Akhirnya mie instan di rak kos seperti menatap balik sambil berkata:
“Kita lagi ya, bro? Aku nggak pernah ninggalin kamu kok.”

Kalau ada penghargaan “Relationship paling stabil,” mie instan jelas menang.

Mahasiswa Semester Akhir dan Hujan yang Menguji Mental Lebih dari Dosen Pembimbing

Mahasiswa semester akhir punya hubungan khusus dengan hujan:
begitu turun, tiba-tiba seluruh ambisi hidup menguap.

WiFi lemot, token listrik kamar kos bunyi (kayak lampu di dada ultramen), dan mood penelitian hilang tak bersisa. Kadang hujan cuma 20 menit, tapi produktivitas langsung drop jadi 5%.

Belum nulis bab 4, tapi sudah terasa layaknya penulis novel tragedi.


Jalan Udayana Tempat Jogging Tanpa Tempat Berteduh

Udayana adalah lokasi jogging paling ramai, tapi juga paling kejam ketika hujan. Begitu tetes pertama jatuh, semua orang langsung cari tempat berlindung. Memang benar di Udayana banyak pohon, tapi nggak cocok buat orang yang mau berteduh, ujung-ujungan bakal basah juga, akhirnya mushola kecil di udayana jadi rebutan.

Hidup memang keras, tapi hujan di Udayana lebih keras.


Ritual Macet di Perempatan Rembige

Entah kenapa, seringkali ketika huja besar reda, perempatan Rembige macetnya lebih parah dari yang biasanya, kayak antrean bagi-bagi BLT. Motor dan mobil ngumpul jadi satu, air menggenang, dan pengendara sibuk mengutuk takdir sambil berharap sepatunya nggak berubah jadi spons.

Drama paling klasik: Sen kiri, tapi belok kanan.
Karna macetnya lama, hujan tiba-tiba datang lagi, badan basah lagi, mental ambyar lagi.


Ambon (Ubi) & Kopi, Obat Resmi Cuaca Mataram

Bagi sebagian anak muda Mataram yang hobi nongkrong, hujan justru bahan bakar ide.
Begitu tetesan hujan menyentuh atap, langsung ada yang nyeletuk:

“Bro… kupi sedak ambon (ubi) kayanya maiq nih”
Atau
“Kopi? Hujan-hujan enaknya kopi.”

Padahal kalau dipikir, tanpa hujan pun mereka ngopi tiga kali sehari. Tapi memang begitu: ada kopi, ada ambon (ubi) ada hujan, ada solusi palsu dari masalah yang sebenarnya belum mau dihadapi.


Hujan Tak Pernah Salah, Mood Anak Muda yang Rapuh

Pada akhirnya, hujan di Mataram bukan sekadar cuaca.
Ia membawa berbagai drama: yang jomblo makin reflektif, yang ngekos makin realistis soal dompet,
yang semester akhir makin mempertanyakan hidup, dan yang nongkrong makin pintar cari alasan buat ngopi.

Tapi satu hal pasti:
Di Mataram, hujan turun tiba-tiba persis seperti kenangan yang muncul tanpa izin.

Airnya reda…
tapi rindu, sendu, dan tagihan kos tetap jalan seperti biasa.

leeeq’imahh ngeriii….

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *