Imajie TV

Frankenstein : “Hadiah” NTB untuk Dunia Sastra

Ketika Tambora Menggetarkan Dunia: Kisah Lahirnya Frankenstein dan Jejak NTB di Baliknya

Siapa sangka, salah satu karya horor paling ikonik sepanjang masa—Frankenstein karya Mary Shelley—memiliki jejak sejarah yang berawal dari letusan sebuah gunung di Nusa Tenggara Barat?

Tahun 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus dengan dahsyat. Dentumannya terdengar hingga ribuan kilometer, dan abu vulkaniknya melayang mengelilingi atmosfer bumi. Setahun kemudian, dunia memasuki apa yang dikenang sebagai “The Year Without a Summer”, tahun tanpa musim panas yang mengubah cuaca global.

Di Eropa, matahari kehilangan sinarnya. Langit tampak gelap berhari-hari. Salju turun di bulan Juni, badai menyerbu tanpa henti, dan suhu anjlok seperti akhir musim dingin. Perjalanan terhambat, perkampungan muram, dan suasana melankolis terasa di mana-mana. Namun dari suasana suram itulah, sejarah sastra dunia berubah selamanya.

Danau Geneva, 1816:  Sebuah Tantangan, Sebuah Mimpi

Musim panas yang seharusnya hangat dan cerah justru membawa angin dingin dan hujan tak berkesudahan. Dalam cuaca yang tak memungkinkan mereka bepergian, saat itu Marry Shelley yang masih bernama Mary Wollstonecraft Godwin), calon suaminya Percy Bysshe Shelley, dan penyair Lord Byron serta dokter pribadinya John Polidori berkumpul di Villa Diodati, dekat Danau Geneva, Swiss.

Hari-hari yang semestinya dipenuhi piknik digantikan malam panjang dengan cerita seram, petir yang menyambar, dan langit gelap akibat abu Tambora yang mengelilingi bumi. Karena cuaca buruk yang terus-menerus, mereka terpaksa menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan. Untuk mengisi waktu, Lord Byron mengusulkan agar masing-masing dari mereka menulis cerita hantu. Byron melontarkan tantangan sederhana namun menentukan:

“Siapa di antara kita yang bisa menulis cerita hantu paling menakutkan?”

Tantangan ini mengubah sejarah. Polidori kemudian menulis The Vampyre, cikal bakal Dracula. Namun Mary Shelley mendapatkan inspirasi paling mengguncang—bukan dari obrolan atau imajinasinya, melainkan dari mimpi yang datang pada malam yang mencekam itu.

Ia memimpikan sebuah mayat yang hidup kembali oleh percikan listrik, bayangan yang begitu nyata hingga membuatnya terjaga dengan napas tertahan. Dari mimpi itulah lahir tokoh yang kini dikenal di seluruh dunia: Frankenstein.

Pada 1 Januari 1818, novel Frankenstein diterbitkan untuk pertama kalinya. Sedikit orang saat itu memahami bahwa kisah monster yang dihidupkan sains ini justru terlahir dari bencana iklim global—bencana yang berawal dari sebuah gunung di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumbawa, NTB.

Letusan Tambora bukan hanya peristiwa geologis terbesar dalam dua abad terakhir tetapi ternyata juga peristiwa yang menyentuh seni, sastra, iklim, ekonomi, dan bahkan imajinasi manusia.

Jika hari itu langit Eropa cerah, mungkin Mary Shelley tak akan bermimpi sekelam itu. Jika badai tak menghalangi perjalanan, mungkin mereka tak akan berkumpul di villa yang sunyi. Jika Tambora tak meletus, mungkin dunia tak akan pernah mengenal Frankenstein.

Lebih dari dua abad kemudian, kisah ini kembali relevan dengan hadirnya film Frankenstein (2025), yang membawa interpretasi baru terhadap legenda karya Mary Shelley. Menontonnya akan lebih bermakna bila kita memahami sejarah panjang di baliknya—bahwa ide yang menginspirasi film tersebut lahir dari perubahan iklim ekstrem yang dipicu oleh letusan gunung di tanah kita sendiri.

NTB bukan hanya menyimpan keindahan alam dan kekayaan budaya. Tanah ini pernah mengguncang iklim dunia dan melahirkan karya sastra yang abadi.

Tambora mungkin menggelapkan langit dunia pada 1816, tetapi dari kegelapan itu, lahirlah cahaya imajinasi yang menyinari sejarah sastra hingga hari ini.

Share

2 Comments

  1. Film ini sangat ikonik sekali. Dimana nuansa horor dibalut dengan sejarah panjang. Saya pun penasaran sama film ini. Ternyata Bang Ajie sudah nonton duluan hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *