Imajie TV

Canva Resmi Akuisisi Affinity: Era Baru Dunia Desain Dimulai

Bayangkan kamu bisa mendesain presentasi keren dalam hitungan menit di Canva, lalu lanjut mengedit layout majalah atau manipulasi foto profesional di Canva Resmi Akuisisi Affinity: Era Baru Dunia Desain Dimulai(Yup, itu bukan mimpi lagi. Canva resmi mengakuisisi Affinity, software desain profesional yang selama ini jadi “senjata rahasia” banyak desainer di luar sana.

Apa sih sebenarnya Affinity itu?

Sebelum diborong Canva, Affinity adalah lini software desain profesional buatan Serif (UK) yang punya tiga produk utama:

✅ Affinity Designer – software vektor untuk ilustrasi, logo, dan desain grafis (saingan terdekatnya: Adobe Illustrator).

✅ Affinity Photo – editor foto super lengkap yang jadi alternatif kuat Photoshop.

✅ Affinity Publisher – software layout untuk buku, brosur, atau majalah, mirip InDesign tapi jauh lebih ringan dan murah.

Kekuatan utama Affinity?

Sekali beli, jadi milik selamanya. Tanpa langganan, tanpa cloud yang ribet, tapi tetap punya performa dan fitur sekelas software profesional. Karena itu, banyak desainer yang mulai “hijrah” dari Adobe ke Affinity.

Lalu, kenapa Canva tertarik membeli Affinity?

Canva dikenal sebagai platform desain online paling ramah pemula di dunia. Dengan ratusan juta pengguna, Canva memudahkan siapa pun—guru, pelajar, UMKM, bahkan tim marketing besar—untuk membuat desain hanya dengan drag & drop.

Masalahnya, Canva selama ini lebih kuat di segmen non-desainer. Kalau kamu butuh desain cepat, Canva sempurna. Tapi kalau kamu butuh kontrol detail seperti editing vektor tingkat lanjut atau layout buku kompleks, Canva masih kalah jauh.

Nah, di sinilah Affinity masuk. Dengan membeli Affinity, Canva seolah berkata ke Adobe:

 “Kami gak lagi cuma buat pemula, tapi juga untuk para profesional.”

Apa yang akan berubah setelah akuisisi ini?

Menurut pernyataan resmi Canva (Maret 2024), Affinity tetap akan berdiri sebagai produk terpisah, tidak dilebur total ke Canva. Artinya: pengguna Affinity masih bisa pakai software-nya seperti biasa, termasuk model lisensi satu kali beli (bukan langganan).

Namun tentu, banyak yang mulai membayangkan masa depan integrasinya. Bayangkan skenario seperti ini:

Kamu membuat desain brand di Affinity Designer, lalu tim marketing-mu tinggal membuka hasilnya di Canva untuk menyesuaikan template kampanye digital, tanpa ribet format file, tanpa hilang font, tanpa j

drama “format tidak kompatibel”.

Kalau Canva bisa mewujudkan integrasi semulus itu, mereka bisa benar-benar mengubah lanskap industri desain global.

Akuisisi ini menarik karena menggabungkan dua filosofi yang selama ini berbeda) 

➡️ Canva = kemudahan, kolaborasi, dan kecepatan.

➡️ Affinity = kekuatan, kontrol, dan profesionalitas.

Dengan keduanya bergabung, dunia desain akan punya ekosistem yang lebih lengkap: Desainer profesional bisa bekerja efisien tanpa meninggalkan power tools-nya. Pengguna awam bisa belajar naik kelas, dari template sederhana ke desain yang lebih teknis. Tim kreatif bisa bekerja lintas level keahlian tanpa “tembok software”.

Singkatnya, Canva + Affinity bukan cuma soal merger perusahaan, tapi tentang menyatukan dua cara berpikir desain: cepat tapi dalam, mudah tapi kuat.

Tapi, apakah semua orang senang?

Tidak sepenuhnya.Sebagian pengguna Affinity agak khawatir Canva akan mengubah model bisnis mereka jadi langganan (subscription), seperti kebanyakan software modern.

Kekhawatiran ini wajar, karena daya tarik Affinity sejak awal justru ada pada lisensi sekali beli yang “bebas biaya bulanan”.

Namun sejauh ini Canva menjanjikan tidak akan langsung mengubah sistem tersebut. Mereka menyebut ingin menjaga komunitas kreatif Affinity tetap nyaman sambil memperluas akses ke teknologi Canva.

Kuncinya: waktu akan menjawab

Canva + Affinity, kolaborasi yang masuk

Kalau kamu desainer, kabar ini bisa dibilang angin segar sekaligus sinyal besar.

Canva sedang memperluas wilayahnya ke ranah profesional, sementara Affinity mendapat dukungan besar untuk berkembang lebih luas dan terhubung ke ratusan juta pengguna baru.

Sama seperti ketika Apple membeli Beats, atau Adobe membeli Figma, langkah Canva ini adalah strategi masa depan — menghapus sekat antara “desainer profesional” dan “pengguna biasa”.

Dan kalau Canva berhasil menjaga identitas Affinity sambil meningkatkan integrasi keduanya, dunia desain digital akan punya ekosistem baru yang lebih terbuka, inklusif, dan efisien.

Catatan akhir dari saya sebagai pengamat desain:

Langkah Canva ini bukan cuma soal bisnis. Ini langkah evolusioner.

Dunia desain bergerak ke arah yang lebih cair — di mana batas antara kreator pemula dan profesional semakin kabur.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kita akan benar-benar melihat “desain untuk semua orang” menjadi kenyataan.

Kamu tim Canva atau tim Affinity?

Atau mungkin sebentar lagi — kamu akan jadi tim keduanya.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *