Imajie TV

“Merantau Mengajarkan Mimpi, Pulang Mengajarkan Realita.”

Di Mataram, bekerja keras itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Sayangnya, hasil dari kerja keras itu sering kali terasa seperti bonus, bukan hak. Usahanya sama, capeknya sama, tapi urusan gaji, nasib tiap orang bisa berbeda beda, tergantung koordinat.

Seorang kawan bercerita dari Timor Leste. Dari kejauhan, hidupnya terlihat aman. “Alhamdulillah, tidak ada yang sia-sia,” katanya. Kalimat yang terdengar rapi, seperti laporan tahunan. Padahal sebelum sampai di situ, hidupnya sempat berantakan, bahkan file hidupnya sempat lupa disimpan.

Tepat satu tahun yang lalu, 3 hari sebelum terompet perayaan tahun baru dibunyikan, ia masih numpang laptopan di rumah. Pikiran kacau, masa depan terasa buram, dan hidup terasa seperti WiFi tetangga: kelihatan ada, tapi susah tersambung. Modal nekat membawanya merantau. Sampai di sana, tidur luntang-lantung. Sedihnya bukan main. Padahal bukan pertama kali ke sana, tapi tetap saja, kenyataan selalu datang tanpa aba-aba.

Ia bekerja dengan orang-orang yang lingkungannya keras, asing, dan tidak mengenal kata manja. Kadang tidur dekat kandang ayam. Makan apa adanya. Bahkan pernah “dipaksa” mencicipi babi, hal yang dulu terdengar tidak mungkin untuk ia makan, karena tumbuh di lingkungan keluarga muslim yang cukup taat. Sekarang hal semacam itu jadi cerita ketawa di akhir kalimat. Hidup, rupanya, suka bercanda dengan cara yang tidak lucu.

Pelan-pelan, roda hidup berputar. Ia mendapat pekerjaan yang lebih layak. Mess yang nyaman, bahkan bisa dibilang gokil. Bosnya berani menghentikan pekerjaan demi libur panjang dan kumpul keluarga. THR-nya? Tidak bikin overthinking. “Ini baru bos,” katanya, sambil mungkin dalam hati membandingkan dengan bos-bos yang hobi bilang, ‘kita ini keluarga’ tapi lupa transfer.

Di titik itu, ia sadar satu hal: usaha yang sama, ternyata bisa menghasilkan hidup yang sangat berbeda.

Lalu bagaimana dengan Mataram?

Sejauh apa pun ia pergi, Mataram tetap punya magnet sendiri. Tidak bisa diganti. Tidak bisa ditukar. Rindu datang di momen-momen sepi, saat bengong sendirian. Ingatan langsung melompat ke makanan, ke sudut kota, ke kampung halaman. Duduk diam di depan Masjid Kampung Jawa Utara, Kota Mataram, bengong tanpa agenda, tanpa deadline, tanpa target hidup.

Masalahnya, cinta pada kota sendiri sering tidak sejalan dengan slip gaji. Di sini, UMR kadang terasa seperti angka yang dibuat dengan asumsi: pekerja tidak punya hobi, tidak pernah sakit, dan bahagia hanya dengan ucapan “tetap semangat”. Usahanya serius, tapi hasilnya seperti bercanda.

Ironisnya, saat mengeluh, kita sering disambut kalimat sakti: “Yang penting bersyukur”. Padahal bersyukur dan hidup layak itu dua hal yang seharusnya bisa jalan bareng, bukan saling menggantikan.

Merantau akhirnya bukan soal ingin kaya. Ini soal ingin dihargai. Soal ingin merasa bahwa kerja keras tidak dianggap sebagai bentuk loyalitas gratis. Pergi bukan karena tidak cinta, tapi karena ingin pulang membawa cerita yang tidak semuanya pahit.

Mataram akan selalu jadi rumah. Tapi selama usaha yang sama masih dibayar dengan hasil yang berbeda, jangan heran jika banyak anak mudanya memilih pergi dulu. Bukan untuk meninggalkan, tapi untuk membuktikan: bahwa kerja keras memang pantas mendapat upah yang masuk akal.

Dan mungkin, suatu hari nanti, pulang bukan lagi soal rindu, tapi soal pilihan, bukan pelarian.

Share

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *