Imajie TV

Sultan Muhammad Salahuddin : Cahaya dari Dana Mbojo

Pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025 lalu, masyarakat Nusa Tenggara Barat—khususnya Bima dan seluruh Pulau Sumbawa—menyambut kabar yang begitu membanggakan. Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan ke-XIV Kesultanan Bima, sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah penghormatan yang bukan hanya layak, tetapi juga terasa sebagai penutup yang indah bagi perjalanan panjang seorang pemimpin yang hidupnya dipersembahkan untuk pendidikan, diplomasi, dan persatuan.

Jejak Awal Seorang Pemimpin dari Timur Nusantara

Sultan Muhammad Salahuddin lahir di Bima pada 14 Juli 1889, di tengah tradisi istana yang kuat dan masyarakat yang memandang kesultanan sebagai pusat kehidupan adat, agama, dan pemerintahan. Sejak kecil, ia sudah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. Pendidikan agama, ilmu sosial, serta tata pemerintahan menjadi bagian dari kesehariannya.

Ketika ayahandanya, Sultan Ibrahim, wafat pada tahun 1915, Muhammad Salahuddin naik takhta dan dua tahun kemudian diresmikan sebagai Sultan Bima ke-XIV. Masa pemerintahannya membentang panjang—lebih dari tiga dekade—dan mencakup masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga lahirnya Republik Indonesia. Masa-masa inilah yang menguji ketangguhan dan visi seorang pemimpin.

Pendidikan sebagai Jalan Memajukan Rakyat

Salah satu kontribusi terbesar Sultan Muhammad Salahuddin adalah keberpihakannya pada pendidikan. Pada masa ketika akses belajar sangat terbatas, Sultan membuka jalan baru.

Ia mendirikan sekolah-sekolah modern seperti Hollands Inlandse School (HIS) untuk anak-anak Bima, sekolah kejuruan perempuan (kopschool), hingga madrasah Darul Ulum yang memperkuat pendidikan agama dan moral. Ia bahkan memberikan beasiswa kepada putra-putri Bima untuk belajar ke Jawa dan luar negeri, termasuk ke Timur Tengah.

Dalam pandangan Sultan, kemajuan sebuah wilayah tidak diukur dari besarnya kekuasaan istana, tetapi dari seberapa berkembangnya rakyat. Itulah sebabnya banyak generasi terdidik dari Bima pada masa itu lahir dari kebijakan beliau.

Diplomasi, Kebijaksanaan, dan Komitmen pada Indonesia Merdeka

Peran diplomatis Sultan Muhammad Salahuddin sangat terasa terutama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Di tengah kekacauan politik dan tarik-menarik kekuasaan kala itu, beliau mengambil keputusan historis:
Pada 22 November 1945, Sultan resmi menyatakan bahwa Kesultanan Bima bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Langkah ini bukan hal sepele. Ia menegaskan bahwa kerajaan Bima bukanlah saingan pemerintah republik, melainkan bagian dari semangat kebangsaan yang lebih besar. Keputusan tersebut telah mencatatkan Bima sebagai wilayah yang secara tegas memilih Indonesia tanpa syarat.

Penghormatan yang Dinanti dan Kini Diresmikan

Setelah melalui proses panjang pengusulan—bahkan sejak 2008—pada akhirnya gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepada Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 2025 melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia. Pengumuman itu disampaikan langsung pada peringatan Hari Pahlawan.

Bagi masyarakat NTB, momen tersebut terasa mengharukan. Seorang tokoh dari Pulau Sumbawa, yang selama ini dihormati sebagai pemimpin yang sederhana dan penuh kasih, kini diakui secara nasional sebagai teladan bangsa.

Banyak tokoh daerah menyebut bahwa penghargaan ini bukan hanya untuk Sultan, tetapi juga untuk masyarakat Bima yang telah menjaga warisan budaya, pendidikan, dan nilai persatuan yang beliau bangun.

Warisan yang Tetap Hidup

Hingga hari ini, jejak Sultan Muhammad Salahuddin masih dapat dilihat di berbagai sudut Bima:

  • sekolah yang ia dirikan,
  • bangunan bersejarah Kesultanan,
  • nilai-nilai adat yang ia perkuat,
  • hingga nama beliau yang diabadikan sebagai nama bandar udara di Bima.

Lebih dari itu, warisan yang paling berharga adalah cara beliau memimpin: menggabungkan tradisi dan modernitas, keberanian dan kelembutan, kebijaksanaan adat dan semangat kebangsaan.

Pahlawan dari Tengah yang Menerangi Indonesia

Penetapan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional mengingatkan kita bahwa sejarah Indonesia tidak hanya terukir di kota-kota besar, tetapi juga lahir dari daerah-daerah yang jauh di timur Nusantara. Dari Bima, seorang pemimpin telah menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari ruang-ruang kecil, dari kelas sekolah, dari diplomasi yang tenang, dan dari cinta pada rakyatnya.

Hari ini, masyarakat NTB berbangga. Indonesia pun berterima kasih.
Cahaya dari Dana Mbojo kini bersinar untuk seluruh negeri.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *