Tidak banyak yang tahu bahwa di balik hamparan alam Sumbawa yang indah, tersimpan satu kekayaan hayati yang kini semakin langka: Mangifera sumbawaensis, atau yang oleh masyarakat Sumbawa dikenal sebagai Pelam Busit.
Buah beraroma kuat ini memang tidak sepopuler mangga komersial, namun justru menyimpan cerita panjang tentang keanekaragaman hayati Nusantara—bahkan hingga ke pusat penelitian dunia.

Mangga Endemik yang Kini Mulai Langka
Pelam Busit adalah salah satu spesies mangga endemik yang hanya tumbuh di wilayah tertentu di Pulau Sumbawa, dan dalam beberapa catatan juga ditemukan di sebagian area Flores. Species ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli botani Kostermans dan tercatat dalam keluarga Anacardiaceae (keluarga mangga-manggaan).
Di masa lalu, spesies ini sempat dikumpulkan oleh peneliti asing sebagai bahan herbarium. Keberadaannya dalam koleksi ilmiah internasional menunjukkan bahwa tanaman ini diakui secara ilmiah sebagai bagian dari kekayaan genetik Sumbawa. Namun hari ini, populasinya semakin menyusut. Habitat alaminya—hutan hujan tropis—kian terfragmentasi menjadi lahan pemukiman, pertanian, atau industri. Karena itu, dalam beberapa publikasi konservasi, Mangifera sumbawaensis sudah masuk kategori rentan (Vulnerable).
Morfologi dan Keunikan Pelam Busit
Pelam Busit tumbuh sebagai pohon besar yang dapat mencapai tinggi hingga 40 meter, dengan batang besar dan kadang memiliki akar panggul (buttresses). Buahnya berukuran relatif kecil, berbentuk bulat sekitar 5 cm, dengan kulit yang tidak sempurna seperti mangga hutan pada umumnya. Ciri yang membuatnya disukai masyarakat lokal adalah:
✔️ Aroma kuat—lebih tajam dibanding mangga komersial.
✔️ Rasa khas campuran manis, asam, dan segar.
✔️ Tekstur daging buah yang lebih berserat, tetapi sangat memuaskan sebagai camilan alami.
Buah ini biasanya tidak dibudidayakan massal, melainkan dikumpulkan langsung dari alam, sehingga keberadaannya makin jarang ditemukan di pasar.
Kandungan Gizi Mangga Hutan
Meski belum ada penelitian khusus untuk M. sumbawaensis, mangga hutan umumnya kaya akan nutrisi, di antaranya: Vitamin C (tinggi), Vitamin A, Antioksidan alami, Serat, Mineral seperti kalium & magnesium. Kandungan ini menjadikannya buah yang bukan hanya enak, tetapi juga memberi manfaat kesehatan.
Pentingnya Pelestarian
Keberadaan Pelam Busit kini berada pada titik rawan. Habitatnya menyusut dan belum banyak upaya budidaya yang dilakukan. Padahal, sebagai spesies lokal yang hanya ditemukan di wilayah tertentu, mangga ini menyimpan nilai ekologis, budaya, dan bahkan ekonomi jika dikembangkan dengan tepat.
Melestarikan Mangifera sumbawaensis berarti: Menjaga warisan hayati Sumbawa, Mencegah hilangnya spesies endemik, Menjaga keberagaman genetik tanaman pangan Nusantara, Membuka peluang penelitian dan pemanfaatan jangka panjang,
Sumbawa, Rumah Bagi Kekayaan Hayati yang Unik
Pelam Busit adalah pengingat bahwa Sumbawa tidak hanya kaya akan pantai dan alam eksotik, tetapi juga memiliki tanaman unik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Keberadaannya mengundang rasa bangga sekaligus tanggung jawab.
Semoga semakin banyak pihak yang mengenal, menanam, dan menjaga mangga endemik ini agar tidak benar-benar hilang dari bumi Sumbawa.